Dermaga Niaga Pantura Ende Ditolak

Kota Ende, Suara Flores — Pelaksanaan pembangunan Dermaga Niaga di wilayah Kabupaten Ende Bagian Utara sangat dibutuhkan saat ini, karena hasil komoditi di Wilayah Pantura (pantai Utara) Ende – Flores yang cukup menjanjikan namun kalau dalam pemasaran karena belum ada sarana transportasi laut seperti dermaga atau pelabuhan laut. Sudah barang tentu semua pembangunan mempunyai tujuan dan bermanfaat bagi kemajuan suatu wilayah, namun tujuan pembangunan Dermaga Niaga tersebut, diharapkan tidak mengorbankan hak masyarakat adat.

Pembangunan Dermaga Niaga yang berlokasi di Pantai Nanganio, Desa Watukamba Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, hingga kini masih menuai kritik. Proses pengukuran yang kini sementara dilakukan dilokasi untuk dibangun Dermaga Niaga tersebut mendapat reaksi penolakan secara tegas oleh masyarakat. Penolakan dilakukan sejak pengukuran pertama dilakukan pada tanggal 09 September 2009, dengan teguran berupa larangan, bahkan sempat tolak menolak antara petugas yang melakukan pengukuran dengan masyarakat setempat, namun hal tersebut tidak diindahkan.

Pengukuran pun kembali dilakukan untuk kedua kalinya tepat pada tanggal 11 Oktober 2010, saat pengukuran berlangsung terjadi pelarangan oleh masyarakat dengan memagar lokasi tersebut sebagai bentuk keseriusannya menolak pembangunan Dermaga Niaga. Reaksi-reaksi yang dilakukan oleh masyarakat hingga saat ini tidak ditanggapi secara serius oleh pihak pemerintah setempat. Sehingga masyarakat bersama aktivitas GMNI melakukan aksi penolakan dengan mendatangi Gedung DPRD Ende, pada senin 15 Nopember 2010 lalu. Warga yang datang dengan menggunakan bus kayu tersebut melakukan orasi, tepatnya di Bundaran Lampu Lima jantung kota Ende, menuju jalan El Tari. Aksi tersebut mengundang perhatian banyak orang dan mendapat pengawalan ketat dari aparat Kepolisian Polres Ende.

Dalam aksi tersebut, masyarakat menolak pembangunan Dermaga Niaga di Nanganio, Desa Watukamba Kecamatan Maurole, karena diduga sarat KKN dan tidak melibatkan pemangku adat yang ada yakni para Mosalaki (Tua Adat) sebagai penjaga tanah persekutuan, serta meminta Kepala Desa watukamba, Camat Maurole dan Kadis Perhubungan Kabupaten Ende dicopot dari jabatan karena dinilai telah merusak tatanan kehidupan masyarakat adat serta mengintervensi warga masyarakat dan telah mengambil keputusan sepihak yang dapat merugikan orang banyak.

Adapun alasan masyarakat menolak pembangunan Dermaga Niaga tersebut karena lokasi pembangunan Dermaga Niaga berada di sekitar perkampungan masyarakat yang dianggap mengganggu tata perkampungan yang ada, tahap-tahap serta upaya menuju pembangunan dermaga tidak dilakukan secara bertahap yang artinya tidak melibatkan semua unsur masyarakat yang ada, dan sampai pada saat pengukuran dilakukan tidak pernah terjadi kata sepakat bahkan komunikasi pun tidak pernah dilakukan dengan pemilik tempat, sehingga sampai saat ini pemilik tempat tidak pernah tahu.

Seperti disaksikan Suara Flores, di Ruang Rapat Gabungan Komisi, warga masyarakat adat Desa Watukamba (Mosalaki dan Ana Kalo Fai Walu) berdialog dengan anggota DPRD Kabupaten Ende. Ketua GMNI Cabang Ende, Andrew Eusabius dalam dialog tersebut, mengatakan dengan adanya kegiatan pembangunan Dermaga Niaga tersebut telah terjadi konflik interen dalam tubuh Mosalaki dan Ana Kalo Fai Walu, untuk itu DPRD Ende segera mengambil sikap menolak pembangunan Dermaga Niaga tersebut karena jika tidak akan terjadi pertumpahan darah antara sesama warga masyarakat di Nanganio. Anggota DPRD Ende, Armin Wuni Wasa, dari Fraksi Demokrat mendukung permintaan warga masyarakat, untuk menolak pembangunan Dermaga Niaga tersebut, ia berharap agar DPRD segera membuat surat rekomendasi penolakan pembangunan Dermaga Niaga tersebut kepada Pemerintah. Saya setuju untuk tidak dibangun di Nanganio, Pemerintah Kabupaten Ende, diminta jangan memaksakan diri membangun Dermaga Niaga disana, karena menurutnya sudah ada friksi-friksi yang terdapat di tubuh Mosalaki (Tua Adat) dan Pemerintah, apalagi katanya sudah dijelaskan tidak melibatkan para tokoh adat disana.

Dialog Mosalaki dan DPRD Kab.Ende – SF

Camat Maurole, Wara Markus, ketika ditemui wartawan di Maurole mengatakan penentuan lokasi pembangunan dermaga tersebut, tidak asal dilakukan, namun telah melalui sebuah kajian. Hasil kajian atau survey menunjukkan bahwa Nanganio layak sebagai lokasi pembangunan dermaga. Ia mengakui, awalnya ada pilihan untuk lokasi pembangunan dermaga di Desa Mausambi, namun karena muncul penolakan dari masyarakat setempat maka lokasi pembangunan dermaga dipindahkan ke Nanganio. Ia menjelaskan dana untuk pembangunan dermaga berasal dari Dirjen Perhubungan Laut RI sebesar 30 miliar. Dananya, dana dari APBN, Pusat menyiapkan anggaran, Propinsi melakukan survey dan Pemkab Ende menyiapkan lokasi.

Ditanya soal kedua lokasi untuk pembangunan Dermaga Niaga tersebut ditolak oleh warga. Masyarakat Camat mengatakan, untuk lokasi di Nanganio lokasi milik Pemkab, yang sudah diserahkan oleh Mosalaki (tua adat) 45 tahun lalu, namun dokumen atau Berita Acara penyerahan tersebut dirinya tidak atau belum tahu, luas lokasi yang diserahkan pada saat itu hanya 1600 meter persegi, sementara lokasi yang diperuntukkan untuk membangun Dermaga Niaga tersebut berdasarkan hasil survey dari propinsi harus mencapai 2 Ha, sehingga pembangunan nantinya menjorok kelaut, sedangkan yang 1600 meter persegi didarat tersebut, untuk dibangun sarana penunjangnya. Kalaupun nantinya ada perkampungan adat yang masuk dalam jalur pembangunan dermaga akan dibicarakan kemudian, ujarnya.

Menurut rencana, pembangunan akan segera dilakukan bila semua urusan terkait pembangunan telah selesai, baik urusan administrasi maupun lokasi yang bakal dijadikan pembangunan dermaga. Kalau ada dermaga dipastikan banyak warga dari luar daerah yang datang membawa kapal untuk membeli komoditas di Wilayah Pantura (pantai utara), dengan demikian komoditas masyarakat akan lebih bernilai. Ia juga membantah perumahan yang ada digusur untuk kepentingan pembangunan dermaga, karena pengukuran beberapa waktu lalu dilakukan secara teknis untuk melihat garis lurus, bukan untuk menggusur perkampungan warga. Sementara itu terlihat dilokasi sudah dipasang sebuah alat oleh PT. Patrisia Jasa Nusa Prakarsa, yang nantinya akan melanjut dengan pekerjaan, alat tersebut untuk mengukur dan melihat jenis pasir sehingga proses pekerjaannya dapat berjalan lancar.

Kepala Persekutuan Adat (Mosalaki Ria Bewa), Yohanes Beke Laka Ray di lokasi pembangunan dermaga kepada wartawan mengatakan hanya karena arogansi Pemerintah Desa dan Kecamatan maka akan muncul kasus seperti ini. Semua kegiatan yang dilaksanakan tidak mengikut sertakan para Mosalaki, terutama Mosalaki Pu’u dan Ria Bewa. Juga tidak melibatkan 34 KK yang masuk dalam Ana Kalo Fai Walu, apalagi kata Jhon, lokasi yang dipasang patok oleh PT. Patrisia Jasa Nusa Prakarsa tersebut masuk dalam perumahan penduduk dan dikuatirkan akan digusur dengan pembangunan dermaga ini. Bentuk penolakan tersebut dilakukan dengan pemancangan kayu yang dilakukan oleh Mosalaki Ria Bewa, Yohanes Beke Laka Ray dilokasi pembangunan Dermaga Niaga tersebut.

Kami Mosalaki sebagai penerima, penerus warisan dan pelaksana adat tetap menjunjung tinggi dan mentaati untuk menegakan nilai-nilai adat tanah persekutuan Watukamba, selalu bersikap tegas dalam mengambil keputusan adat yang berasaskan musyawarah untuk mufakat yang selalu berpedoman pada struktur Mosalaki yang ada, dengan suatu harapan agar aspirasi kami bisa didengar dan ditindak lanjuti tanpa harus dipolitisi Karena pada dasarnya hemat kami kehadiran suatu pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat bukan sebaliknya mendatangkan keresahan dan gejolak konflik baik secara vertikal maupun secara horisontal yang bermuara pada perpecahan didalam masyarakat itu sendiri. (Damianus Manans)

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s