Kantor Mawarani Ditopang Dengan Kayu

Kantor PD.MawaraniKota Maumere, Suara Flores — Kantor PD. Mawarani berdiri reot bagai kantor bupati usai terbakar. Kantor PD. Mawarani berada tepat di Jalan Dr. Sutomo, Kota Baru, Maumere. Sangat menyedihkan ketika kantor yang katanya milik Pemda Sikka itu harus ditopang dengan kayu tidak layak huni oleh manusia. Katakan saja Kepala Bagian Ekonomi Pemda Sikka yang bertindak sebagai PLH PD. Mawarani sekarang enggan memasuki kantor itu. Menurutnya gedung tersebut berbau tikus jadi tak pantas untuk dirinya berdiam. Apa dikata gedung yang berbau tikus itu, selama inipun dapat menggaji dirinya.

Banyak pemikiran menjadi alasan, karena kegiatan usaha tidak kreatif dan tidak inovatif, kondisi bangunan kantor yang memprihatinkan, diperparah lagi dengan kontribusi PD. Mawarani dari tahun ke tahun mengalami pasang-surut. Padahal, sejak didirikan tahun 1962 hingga kini, alokasi dana yang diperuntukkan bagi PD. Mawarani telah mencapai milyaran rupiah. Tetapi sayang, kontribusinya bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sikka, masih jauh dari harapan.

Selain kontribusinya mengalami turun naik, masih terdapat masalah lain yang membebani tumbuh dan berkembang PD. Mawarani, yakni masalah manajemen perusahaan yang tidak efisien dan efektif. Seperti pemborosan dana, banyaknya jumlah karyawan dan keputusan manajerial yang diambil secara tidak profesional. Lebih parah lagi, manajemen perusahaan dan Pemkab Sikka selalu lamban membaca situasi dan kondisi bisnis yang sedang terjadi.

Pada tahun 2004-2008, PD. Mawarani dibawah kepemimpinan Galdimus Edisius Dore, S.Ag., pengembangan usaha mengalami peningkatan. Selain usaha konstruksi, PD. Mawarani mendirikan Sub Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang berlokasi di Waidoko dan membuka usaha pengolahan sabut kelapa. Sayang, usaha pengolahan sabut kepala, yang dananya diperoleh dari dana penambahan modal usaha bukan pengadaan mesin sabut kelapa dari Pemkab Sikka pada tahun 2006 senilai Rp. 500 juta ini, mandek. Pasar fluktuatif, harga kopra di pasaran meningkat drastis, dari Rp. 2.000 per kilogram menjadi Rp. 8.000 per kilogram. Petani lebih memilih kelapa dibelah dan isinya dijadikan kopra dari pada menjual buah.

Kini, PD. Mawarani hanya hidup dari usaha konstruksi dan SPBU. Tapi, setiap tahun, terhitung sejak 2004 PD. Mawarani menyerahkan kontribusi sebesar 50 persen kepada Pemkab Sikka. Tercatat, kontribusi PD. Mawarani pada tahun 2004; Rp. 25 juta, tahun 2005; Rp. 151,7 juta, tahun 2006; Rp. 157 juta, tahun 2007 meningkat menjadi Rp. 207 juta dan tahun 2008; Rp. 207 juta. Maka harus diakui pula, bahwa dalam sejarah PD. Mawarani, baru pada tahun 2004 hingga tahun 2008, kontribusinya selalu 100 persen diserahkan ke Pemkab Sikka sebagai PAD.

Ada Dualisme  Peran

Pengamat dan Pelaku Ekonomi Sikka, Kornelis Soge, SE menjelaskan, dari segi konsep, ada dualisme fungsi dan peran dalam tubuh PD. Dualisme itu sulit dibedakan. Oleh karena itu, menurutnya, Pemkab Sikka perlu melakukan restrukturisasi dengan mengubah manajemen birokratis yang terjadi selama ini, ke arah bisnis-profesional murni. “Birokrasi mesti dikurangi agar keputusan bisnis dapat diambil dengan cepat. PD. Mawarani mesti diberikan kesempatan untuk menentukan kebijakan  sendiri. Dengan demikian, Pemkab Sikka perlu mereformasi PD. Mawarani menuju perusahaan publik,” ujar Kornelis, yang juga ketua APSI Kabupaten Sikka.

Kornelis menambahkan, Pemkab dan DPRD Sikka, juga perlu melakukan perubahan terhadap berbagai hal. Perubahan itu antara lain, kembali merevisi Perda No. 13 Tahun 2003 yang menjadi pedoman pelaksana operasional perusahaan, menetapkan standar manajemen yang jelas dan benar serta menempatkan para pekerja yang mempunyai daya kreasi dan inovasi tinggi. “Pemkab Sikka sebagai pemilik PD. Mawarani, perlu melakukan pembenahan manajemen perusahaan. Pemimpin perusahaan adalah orang yang memiliki kemampuan manajerial handal dan para karyawannya juga mesti mempunyai naluri bisnis kuat. Standar manajemen yang baik perlu di kedepankan agar menjadi acuan kerja yang jelas,” ujarnya.

Beroperasinya PD. Mawarani ke depan, diharapkan agar tidak mematikan bisnis sektor swasta, karena selain tujuan bisnis, PD. Mawarani lahir untuk mengatasi berbagai kesulitan perekonomian masyarakat Kabupaten Sikka. Misalkan, saat ini, dengan membuka SPBU. Setidaknya, PD. Mawarani telah mampu mengatasi kesulitan akan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kabupaten Sikka, ujarnya seraya menambahkan, saat ini, masyarakat tengah mengalami kesulitan memasarkan komoditi perdagangan dan kesulitan mendapatkan Sembako. PD. Mawarani mesti berada di depan untuk mengatasi hal tersebut. “Tetapi, harus diingat, bahwa adanya PD. Mawarani tidak dengan serta merta menutup ruang bisnis pihak swasta,” tandasnya.

Sementara itu, anggota DPRD Sikka, Ir. Simon Subandi mengatakan, selain standar manajeman perusahaan, perlu pula dibuatkan Kerja Sama Operasional (KSO) antara Pemkab Sikka dengan PD. Mawarani, sehinggga ada kejelasan kewenangan antara pemerintah daerah dengan perusahaan daerah. Artinya, seberapa besar campur tangan dan keterlibatan Pemkab di PD. Mawarani, ditentukan dalam KSO. Pemkab Sikka dan PD. Mawarani tahu menempatkan diri, sejauh mana peran masing-masing pihak. PD. Mawarani adalah perusahaan, maka tempatkan pada tempat yang benar. Yang mana dalam istilah manajemennya adalah the right man on the right place. “Pemkab Sikka harus tahu, seberapa jauh kewenangannya terlibat dalam mengurus perusahaan ini. Pemkab Sikka mesti membuka ruang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang layaknya sebuah perusahaan. (Yanes)

Iklan

3 Komentar

  1. Gambar itu kantor PD Mawarani atau pondok di Nerangkliung. Bagaimana perusahaannya mau maju kalau rumahnya aja begitu. Maka kalau mau data base orang miskin Mawarani juga perlu didaftar karena indikatornya adalah kantor yang disandar dg kayu.
    Lebih dari itu bila terjadi bencana apa yang terjadi?

    • BUNG Herry, pondok itu di topang dengan kayu karena memang tidak ada alat lain lagi untuk menahanya. jadi sebagai pecinta lingkungan masyarakat masih bersedia menyimpan kayu-kayu itu, kalau tidak maka genaplah sudah pekerjaan Badan Penggulangan Bencana Daerah, bencana datang maka lahan mereka untuk mengisi kekuatan..pondok ini dibangun oleh masyarakat Desa Nirangkliung

      • Kegagalan PD. Mawarani adalah kegagalan pemimpinnya


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s