Antisipasi Mutu Rendah, KKG Kuncup Mekar Bedah SKL

Ruteng, Suara Flores, — Masalah yang paling serius berkenaan dengan dunia pendidikan formal sekarang ini salah satu faktornya adalah mutu guru yang kian minim selain kelemahan siswa dan orang tua murid itu sendiri, karena itu betapa pentingnya guru-guru harus lebih tekun dan giat mencari dan berdiskusi dalam kelompok dengan guru-guru lain dari sekolah-sekolah lain yang sadar mutu, yang salah satunya yaitu Kelompok Kerja Guru (KKG). Demikian dikatakan Ketua KKG Bermutu Kuncup Mekar sekaligus staff pengajar di SDK Ruteng V, Agustinus Gias, S. Pd bersama Sekretaris KKG, Yohanes T. P. Daman, kepada media ini beberapa waktu lalu di ruang kerjanya.

Kegiatan KKG menurut Gias melalui program BERMUTU-nya (better, education, through, reformed, management, universal, teacher and upgrading) adalah satu bentuk  kegiatan yang membantu sekolah-sekolah kian bermutu melalu pelatihan, workshop dan sosialisasi.

Dilaksanakannya KKG, kata Agustinus, mengacu pada data kelulusan UAS-BN SD/MI yang diperolehnya dari Dinas PPO Kabupaten Manggarai yang prosentasennya tahun 2006-2010 untuk beberapa sekolah yang tergabung dalam KKG Bermutu Gugus Kuncup Mekar untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, IPA, Matematika, dan IPS kumulatifnya berkisar 99,3 % tahun 2006/2007, 95,6% tahun 2007/2008, 72,5% tahun 200/2009, dan 99,35 % tahun 2009/2010.

Dari data tersebut, terangnya, memperlihatkan bahwa prosentase kelulusan ketiga mata pelajaran tersebut yang merupakan UAN yang mengalami kenaikan yang signifikan, yang katanya merupakan peningkatan kinerja guru yang berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa terutama prosentase hasil lulusan.

Akan tetapi, kata dia, nilai standar kelulusan yang ditetapkan oleh sekolah-sekolah yang tergabung dalam KKG Kuncup Mekar, sebenarnya masih jauh dari harapan secara nasional, yang mana Bahasa Indonesia 4,00, IPA 3,50, dan Matematika 3,00 bila dikaitkan dengan standar UN untuk tingkat SMP dan SMU. Namun, perolehan nilai UAS/UAS-BN bagi siswa peserta UAS dengan standar yang sangat rendah masih memprihatinkan.

Terkait dengan ini, kata dia, beberapa masalah yang fatal yang dihadapi selama ini oleh sekolah-sekolah,  yaitu guru yang kurang memadai, sebagian guru belum berkualifikasi SI/D-IV atau sebanyak 92,% guru belum berkualifikasi, seiring berlakunya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2008, di mana guru tidak hanya sebagai pelaksana kurikulum tetapi juga sebagai pengembang kurikulum, guru sulit melalukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), etos kerja guru yang menurun, motivasi belajar siswa kurang, kurang sarana dan prasarana pendukung, orang tua kurang peduli, dan pemerintah belum perhatikan secara serius.

Dengan begitu, berdasarkan soal-soal yang ada, maka yang perlu adalah tingkatkan kualifikasi dan kompetensi guru, penguasaan kurikulum dan bahan ajar serta berbagai perangkat seperti silabus dan RPP, penguasaan strategi dan metode pembelajaran inovatif khususnya strategi berbasis PAIKEM, pemanfaatan media dan alat bantu pembelajaran, pemahaman terhadap karakteristik dan perkembangan peserta didik dan wawasan pendidikan yang mutakhir, etos kerja guru, PTK dan ketrampilan menggunakan ICT.

Berdasarkan soal-soal yang dihadapi, kata dia, maka diupayakan untuk bentuk KKG dengan maksud memecahkan masalah-masalah tersebut melalui berbagai pendekatan. Para guru yang tergabung dalam wadah ini bertekad untuk melakukan perbaikan-perbaikan melalui komunitas belajar dan berbagai bentuk kegiatan lainnya seperti case study, lesson study, PTK, learning journal, kajian kritis, pengembangan KTSP, evaluasi pembelajaran, identifikasi masalah, refleksi dan tindak lanjut.

“Yang lebih penting dari KKG Bermutu tidak lain hanya untuk pecahkan berbagai soal-soal yang ada bersama guru-guru agar prosentase kelulusan yang diharapkan bisa mencapai target atau paling tidak sesuai dengan Standart Kompetensi Kelulusan (SKL). Karena itu, kami terus bekerja melalui program Bermutu ini dengan meluangkan waktu di luar jam sekolah, yang terkadang dua kali sepekan atau terkadang sekali sepekan, tetapi yang pasti bahwa anak-anak harus segera dibantu meski dengan dana terbatas”, kata Gias. +++MP+++

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s