Amuk Bencana Koyak Nasib Petani Garam Nangahale

Kota Maumere, Suara Flores — Dari tahun 2010 sampai 2011, curah hujan nampak meningkat bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Curah hujan yang berkepanjangan tidak sedikit mengundang bencana di mana-mana. Di laut maupun di darat, bencana itu menimpa warga bahkan banyak materi dan sumber penghidupan sekejap hilang bersama bencana. Tak henti-hentinya bencana terus melanda kota “tsunami”, Kabupaten Sikka. Begitu banyak kerugian yang dialami oleh masyarakat Kabupaten Sikka seiring dengan terjadinya bencana gelombang pasang di Kelurahan Waioti, Desa Nangahale dan Wailamung, serta bencana banjir yang terjadi di beberapa desa di Kecamatan Mego dan Paga. Bencana membawa steoreotipe yang menakutkan karena kapasitas warga dalam menghadapi bencana masih sangat terbatas. Warga kehilangan pekerjaan, kehilangan tempat tinggal yang menyebabkan harus mencari dan mencari, bagai anak ayam kehilangan induknya. Makan minum sehari-sehari pun menjadi permasalahan yang masih berkepanjangan. Susah senang, tabah dan sabar dihadapi dengan lapang dada.

Di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, sebagian besar warga pesisir terpaksa mengungsi. Bencana abrasi memporakporandakan rumah warga mengakibatkan banyak petani garam harus mengakhiri pekerjaan tetap sebagai penopang hidup selama ini. Kurang lebih 33 kk para petani garam mengeluh, mengadu dan berharap banyak kepada Pemkab Sikka. Paling tidak Pemkab Sikka sedikitnya membuka tangan dengan lapang dan penuh keikhlasan serta tak berharap banyak. Warga Nangahale sudah sering mengadu agar cepat ditanggulangi sehingga mereka kembali bekerja sebagai petani garam yang berkualitas, demikian kata Jumaldi Dhakir, warga petani garam.

Bencana abrasi ini kerapkali terjadi. Malah hampir setiap tahun, warga Nangahale yang letaknya persis di bibir pantai selalu menjadi korban utama ketika abrasi datang. Ketika itu, Pemkab Sikka melalui intansi terkait (Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Dinas Sosial dan Nakertrans serta Tagana) bergegas mendatangi lokasi bencana untuk memantau dan memberikan bantuan. Bantuan berupa tempat pengungsian (Posko) hingga makan minum (mie, beras dan telur). Masyarakat menjadi aman saat itu. Makan nasi, mie dan telur serta tidur di tempat yang aman. Ketika abrasi redah, berbagai Dinas terkait pulang tanpa banyak pesan. Padahal masyarakat masih membutuhkan bantuan berupa tempat tinggal dan pemindahan tempat usaha. Apalagi wilayah Nangahale yang dihuni warga adalah tanah Hak Guna Usaha (HGU) atau tanah milik misi, ujar Jumaldi.

Jumaldi, sudah puluhan tahun hidup menjadi petani garam. Dari hasil jualan garam, dia dapat memenuhi kebutuhan anak-anak dan istrinya. Keluarganya dapat bertahan hidup sampai sekarang walau belum mampu membangun rumah. Kurang lebih duapuluhan tahun menjadi petani garam, dirinya bahagia bangga dapat membahagiakan keluarganya. Menurutnya, menjadi seorang petani garam adalah sebuah pekerjaan mulia dan sangat ia cintai. Mencintai pekerjaan yang kita jalankan maka akan bahagia dan semangat dalam bekerja.

Petani garam lainnya, Muhamad Laming, mengatakan, penghasilan penjualan garam olahannya, dalam sebulan minimal 2 sampai 3 juta dengan besarannya jumlah garam yang dijual dalam sebulan kurang lebih 2 ton. Satu karung dijual dengan harga Rp. 215.000,-. Garam hasil olahannya kemudian didistribusikan ke Flores Timur, Adonara, Solor dan Kupang, Kefa. Sedangkan sisanya dijual di pasar Kota Maumere. Namun sekarang dirinya bersama puluhan teman terpaksa harus kehilangan pekerjaan. Bila ingin mendapatkan uang mereka terpaksa harus beroperasi ditempat yang rawan abrasi tersebut. “Saya bersama puluhan teman se-profesi terpaksa harus kehilangan pekerjaan karena diterpa gelombang laut. Bukan saja daerah kelola garam hanyut terbawa pecahan gelombang laut yang menjulang tinggi, tetapi hidupku juga telah terhanyut bersama perginya gelombang laut, demikian tuturnya.

Berdoa dan bekerja (Ora et Labora) adalah sebuah ungkapan optimisme untuk mengatasi krisis yang sedang melanda keluarganya, kata Muhamad Laming seraya menambahkan bahwa disisi lain mereka sedang membuka tangan, menunggu sambil berharap banyak, ada kado bencana dari pemerintah baik Pusat, Propinsi maupun Pemkab Sikka untuk kembali menata hidupnya. Tentu saja berharap pada pemkab Sikka dan pemerintahan Propinsi NTT mungkin saja menjadi angin segar dalam program pengembangan garam di NTT yang sedang ramai dibicarakan. Bila pemerintah Provinsi menghendaki NTT dinobatkan menjadi propinsi garam, hendaklah kami petani garam diberi kredit lunak untuk menjadikan produksi garam sebagai sumber nafkah dan lebih dari itu mendukung program pengembangan garam, demikian kata Laming penuh optimis.

 

25 M Untuk Penanggulangan Bencana

Anggota DPRD Sikka dari Fraksi Gabungan Nasionalis, Sunardin, SH, ketika ditemui Suara Flores di lokasi bencana, saat abrasi menghantam rumah warga (26/01/2011) mengatakan, Pemda Sikka jangan samakan bencana abrasi dengan gagal panen kemudian selalu andalkan bantuan beras dan mie instan. Mereka bukan busung lapar tapi mereka orang pinggiran yang rutin tahunan menjadi mangsa yang empuk bagi amukan ombak, tandas Sunardin yang terpilih menjadi anggota DPRD melalui pintu Partai Karya Perjuangan dengan daerah pemilihan Sikka 4.

“Kalau Pemda Sikka tidak mampu untuk membangun tanggul. Lakukan relokasi saja karena itu solusi terbaik yang selama ini masyarakat harapkan. Apalagi untuk tahun 2011 Pemda Sikka mendapat bantuan 25 miliar dari pemerintah pusat. Di mana dari dana 14 miliar tersebut dialokasikan untuk penanggulangan bencana di pantai utara (Pantura) dan 11 miliar untuk pantai selatan (Pansel)”, kata Sunardin.

Sebelumnya, Bupati Sikka, Drs. Sosimus Mitang, ketika ditemui Suara Flores di Pelita Hotel Maumere, usai memberikan arahan kepada seluruh Kepala Sekolah di Kabupaten Sikka, mengatakan bahwa untuk mengatasi persoalan bencana yang melanda masyarakat Kabupaten Sikka, Pemda Sikka berkewajiban penuh untuk membantu. Pemerintah dengan susah payah berjuang agar masyarakat korban bencana dapat ditanggulangi. “Kita telah dan sedang mengupayakan agar persoalan yang dihadapi masyarakat korban bencana bisa kita bantu. Pemkab Sikka bersedia memberikan bantuan berupa makan-minum dan tempat pengungsian. Selain itu, Pemkab Sikka juga memberikan bantuan berupa bahan-bahan untuk pengerjaan rumah. Sedangkan untuk lahan, Pemkab Sikka memberikan kepada masyarakat untuk mencari sendiri, ujar Sosimus. +++AY+++

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s