Tebang Pohon, Warga Magepanda Datangi PLN

Kota Maumere, Suara Flores — Kurang lebih puluhan warga Desa Magepanda, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, mendatangi Kantor PLN Cabang Flores Bagian Timur beberapa waktu lalu. Kedatangan warga ini didampingi Kepala Desa Magepanda, Petrus Tenda dengan maksud menanyakan kepada PLN atas tindakan yang dianggap sepihak dengan menebang tanaman pertanian dan perdagangan milik warga disepanjang jalur listrik pada wilayah mereka. Menurut mereka, tindakan yang dilakukan oleh PLN sangat tidak bertanggungjawab. Sangat menggangu keberlangsungan hidup mereka. Tanaman-tanaman perdagangan yang ditebang merupakan lahan ekonomi untuk bertahan hidup. Maka pada kesempatan itu masyarakat minta ganti rugi. Demikian hal ini dikatakan oleh Petrus Tenda, di ruang Supervisor Hardis, PT. PLN (Persero) Cabang Flores Bagian Timur.

Dihadapan Marianus Kota, selaku bagian Supervisor Distribusi PLN, masyarakat meminta penjelasan langsung atas tindakan yang telah dilakukan PLN. PLN harus bertanggungjawab atas tanaman perdagangan yang ditebang. Dari pengamatan kami, terlalu banyak pohon ditebang. “Kita tidak marah. Akan tetapi kita kecewa sekali”. Ditengah hambatan gejolak ekonomi menjadi persoalan serius saat ini, PLN malah menghancurkan kemapanan hidup masyarakat setempat. PLN secara sewenang-wenang menyerobot atau menebang tanaman perdagangan yang merupakan sandaran hidup warga. Itu sangat tidak dibenarkan. Apalagi, tindakan penebangan tersebut dilakukan tanpa ada koordinasi kepada pemerintah setempat. Jadi kami menilai ini penyerobotan. Oleh karena itu kami datang, meminta pertanggungjawaban pihak PLN, jelas Petrus Tenda.

Dia menambahkan, ketika itu terjadi, PLN malah diam-diam saja dan mungkin berpikir tidak ada persolan. Ini lucu. Memang, kita paham akan peran dan fungsi PLN untuk masyarakat. PLN sangat dibutuhkan masyarakat. Akan tetapi prosedur dan mekanisme harus benar. Tidak mengambil sikap sendiri, yang berhubungan dengan hajat hidup banyak orang. Masyarakat menginginkan yang baik dan sejahtera. Karena masyarakat tidak berkehendak untuk menolak atas berbagai kegiatan yang dilakukan PLN ditengah masyarakat. PLN sudah menjalankan fungsi dan tugasnya, namun fungsi dan tugas harus dilihat bila berkaitan langsung dengan ekonomi masyarakat. Itu yang perlu kita pikirkan bersama.  Paling tidak, sebelum melakukan kegiatan itu, ada koordinasi atau sosialisasi atau mungkin surat pemberitahuan. Sehingga pihak desa memberikan pemahaman kepada masyakat untuk menyepakati dilakukannya kegiatan tersebut, tandas Marianus seraya menambahkan bahwa paling tidak ada kebijakan lain yang sama-sama untung atau tidak merugikan masyarakat dan PLN.

Jumlah pohon produktif (kelapa, jambu mente) kurang lebih 100 pohon tidak termasuk tanaman pisang milik warga ditebang petugas tanpa ijin pemilik lahan, lebih dari 100 rumpun. Banyak kerugian yang tak dapat dihitung. Ada jenis pohon umur panjang, dan ada pohon umur pendek. Jenis pohon tersebut adalah pohon produksi. “Kami merasa sakit sekali. Bukan sekedar soal materi saja, tetapi kami berpikir sepertinya masih dijajah. Heran, kok bisa main tebang-tebang begitu saja tanpa memberitahu pada pemiliknya,” kata Rafael Dheti, warga Vata, RT03/Rw/05, Dusun Koli Bewa, Desa Magepanda. Pria tua berambut uban yang terlihat getol dan semangat bicara ketika menyampaikan keluh kesahnya saat berdialog dengan Marianus Kota sambil berharap ada jaminan  atau harus ada ganti rugi.

Pada kesempatan itu, bagian Supervisor Distribusi PLN, Marianus Kota, menanggap baik berbagai pernyataan dan pertanyaan yang disampaikan oleh masyarakat. Menurut dia, penebangan dilakukan di area jaringan listrik di Kecamatan Magepanda. “Kita lakukan untuk menekan gangguan jaringan dan perluasan jaringan listrik, tidak semua gangguan listrik pusatnya dari PLN saja, tetapi banyak juga alasan non teknis seperti adanya pohon yang mengganggu kabel jaringan”, katanya.

Kepala Desa bersama masyarakat sedang berdialog dengan Marianus Kota

PLN sangat mengharapkan adanya kerjasama dari semua lapisan masyarakat tanaman tumbuh dekat jaringan listrik untuk bersedia menebang pohon tersebut karena dikwatirkan sewaktu-waktu dapat menimpa kabel listrik. Tanaman tumbuh atau pohon yang besar berada dekat jaringan listrik, menurtunya sangat membahayakan kabel jaringan listrik. Apalagi jika ada hujan deras atau angin kencang di musim-musin hujan. Jikalau terjadi gangguan jaringan akibat pohon tumbang atau dahan pohon mengenai kabel, bisa saja listrik akan mati. Pelanggan lain juga akan dirugikan. Seperti yang terjadi di Magepanda. Sehingga kerjasama yang baik  harus kita bangun sebagai rasa kebersamaan dalam hidup bermasyarakat. Bagi masyarakat yang tanaman perdagangannya telah ditebang, PLN akan memberikan uang siri pinang bukan ganti rugi, tuturnya kepada masyarakat yang ada saat itu.

 

PLN Siapkan Uang Siri Pinang

Terhadap persoalan itu, Asisten Manajer PLN Cabang Flores Bagian Timur, Made Maharsa, saat ditemui Suara Flores di ruang kerjanya menuturkan, pihak PLN sudah melakukan sosialisasi dengan melalui pemerintahan setempat. PLN akan melakukan interkoneksi untuk nyala 24 jam. Ini terjadi untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Bagaimanapun juga, masyarakat harus memahami langkah yang diambil PLN. Mungkin masyarakat belum tahu, kita sudah laksanakan sosialisasi lewat pemerintahan setempat. Hal itu kita sudah lakukan jauh-jauh sebelumnya. Kemungkinan, dalam waktu dekat ini PLN melakukan interkoneksi atau penyambungan jaringan dari Magepanda dengan Maumere, Maumere ke Nebe yang selama ini terputus. Semua jaringan tersebut terpusat di PLN. Kedepan PLN membenahi gangguan yang selama ini terjadi. “Jadi mungkin saja, masih ada satu atau dua masyarakat yang belum paham karena belum dengar sosialisasi yang dilakukan pemerintah setempat. Kita harus membuat pilihan perubahan dari jaman dulu. Harus ada perubahan secara berkala,” tuturnya.

Made menambahkan bahwa aktivitas yang terjadi dilapangan adalah oleh pihak PLN melalui instalatir sebagai pihak ketiga. Jadi mungkin saja, pihak ketiga telah menyalahi aturan sehingga ada aksi protes itu. Benar, seperti dikatakan masyarakat karena memang itu merupakan hak mereka mesti dihargai. Dari kesalahan itulah, maka pihak PLN bersedia untuk memberikan uang siri pinang bukan uang ganti rugi. Kalau uang ganti rugi, terus terang PLN tidak mampu. Karena, bila masyarakat minta ganti rugi maka harus dihitung jangka panjang. “Saya mengatasnamakan PLN menyiapkan uang siri pinang untuk masyarakat atas pohon-pohon perdagangan yang telah ditebang. Dan tindakan kesalahan yang sudah terjadi, menjadi tanggungjawab pihak PLN bersama pihak ketiga untuk membuat koordinasi,” tandasnya. +++AY+++

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s