Wilfrida Soik Korban Trafficking, Para Calo Harus Dihukum

Wilfrida Soik

Mimpi Wilfrida Soik  yang berangkat ke Negeri Jiran, Malaysia untuk sesuap nasi dan memperbaiki nasib, tinggalah mimpi yang sia-sia. Upah tinggi yang diimpikan untuk mengeluarkan sanak saudara dari kemiskinan akhirnya terkandas di penjara, lantaran menghabisi nyawa majikannya karena diperlakukan secara tidak manusiawi. Kini nasib Wilfrida, gadis belia ini dibawah umur ini, tinggal menunggu palu eksekusi.

 

Terkait hal ini, belum lama ini, kontributor media ini mewawancarai Ketua Forum Peduli Perempuan dan Anak (FPPA), Suster Sesilia, SSpS di ruang tamu Susteran SSpS Atambua. Berikut petikan wawancara tersebut :

 

SF : Saat ini salah seorang TKW asal Kabupaten Belu, Wilfrida Soik yang masih di bawah umur, sementara dalam proses hukuman mati di Malaysia . Apa tanggapan Suster sebagai Ketua FPPA?

SS : Ya, dia (Wilfrida Soik, red) merupakan anak dibawah umur yang dibawa ke Malaysia secara ilegal oleh calo-calo yang selanjutnya diurus oleh para calo di Malaysia. Karena itu, calo-calo baik yang dari Indonesia maupun yang dari Malaysia itu harus diproses secara hukum. Itu ada undang-undang yang mengaturnya, dimana penempatan TKI/ TKW secara ilegal di luar negeri itu ada UU yang mengatur, yaitu UU No. 39 Tahun 2004, pasal 102 tentang perlindungan TKI/ TKW di luar negeri yaitu kalau membawa TKI/ TKW secara ilegal atau menempatkan TKI/ TKW secara ilegal, itu hukumannya minimal 2 tahun, maksimal 15 tahun. Terus sanksi dana yaitu minimal 2 miliar, maksimal 15 miliar (rupiah).

SF : Apa yang sudah dilakukan FPPA terkait hukuman mati tersebut?

SS : Yang pertama kami (FPPA) memproses kasus trafficking-nya lewat polisi (polres Belu) dan kami sudah mendampingi pihak keluarga korban dan saksi. Dimana kakaknya Wilfrida Soik sebagai saksi yang juga ikut di bawa oleh calo-calo ke Kupang untuk di bawa juga ke Malaysia. Setelah itu dia (kakaknya) kembali karena merasa anaknya itu masih kecil, sehingga dia kembali ke Atambua karena merasa tidak aman tinggalkan anaknya yang masih kecil. Kakaknya itu bernama Frida Abuk.

SF : Sikap seperti apa yang perlu dilakukan Pemerintah terkait hukuman mati tersebut?

SS : Sikapnya, ya harus berusaha untuk menggagalkan itu hukuman mati karena Wilfrida Soik ini belum waktunya untuk bekerja di luar negeri ya. Umurnya masih di bawah 17 tahun. Selain itu juga, pendidikannya tidak memenuhi persyaratan. Minimal, pendidikannya itu SMP untuk bekerja di luar negeri, tetapi dia ini kan baru kelas 2 SD. Setelah itu dia ikut buta aksara. Bahasa Indonesia-nya saja tidak lancar. Kalau bekerja di luar negeri itu dengan sendirinya dia tidak mampu beradaptasi. Apalagi dari kampung sana langsung ke luar negeri. Nah, ini dia tidak mampu beradaptasi. Kemungkinan dia mengalami stres dan depresi di sana, sehingga dia melakukan hal seperti itu. Aaaa….sebetulnya tidak bisa dihukum mati ya, selain itu sebagai anak, juga sebagai anak tidak bisa dijatuhi hukuman mati.

SF : Seperti apakah sikap Pemerintah Daerah Kabupaten Belu dan Keuskupan Atambua terkait hukuman mati tersebut?

SS : Ya, kalau dengan Pemda Belu, dengan Nakertrans Belu, DPRD Belu dan dengan wakil DPRD Belu itu kami sudah berusaha untuk mencari jalan keluarnya. Dengan Nakertrans, kami sudah berusaha untuk menghubungi Polisi (Polres Belu). Lalu untuk memprosesnya, tingkat Kabupaten bahwa lewat keluarganya melapor ke Polisi, mendampingi keluarganya mengadu ke Polisi. Aaaa….ini sudah proses. Saksi-saksinya, pelaku-pelakunya juga sudah dipanggil dan hari Jumat nanti dipanggil ke dua kalinya pihak keluarga. Lalu untuk prosesnya di luar negeri, kami menghimbau Pemerintah Pusat dan Pemda NTT dan Pemda Belu untuk memfasilitasi keluarga mendampingi korban untuk proses hukum di luar negeri. Kalau dari pihak Keuskupan Atambua sendiri, saya belum mendengar ada usaha-usaha itu.

SF : Ada oknum PNS di instansi BKKBN Belu yang berinisial DM bersama isterinya SR yang merekrut Wilfrida Soik secara ilegal ke Malaysia dan ada kesan bahwa Polres Belu tidak mau memproses oknum-oknum calo tersebut dan juga Polres Belu lamban sekali dalam menangani masalah tersebut. Bagaimana komentar Suster?

SS : Ya, saya lihat masih dalam proses mendampingi untuk tetap diproses itu calo-calo secara hukum. Nanti hasilnya bagaimana, kami juga belum tahu, karena masih dalam proses.

SF : Apa harapkan suster terhadap kasus ini?


Suster Sesilia, SSpS, Ketua FPPA Atambua

SS : Ya, saya mengharapkan diproses betul itu pelaku-pelaku itu, khususnya calo-calo yang merekrut Wilfrida Soik ke Malaysia. Calo-calo itu harus tetap diproses betul sesuai undang-undang yang berlaku. Dan Polisi (Polres Belu) jangan mendiamkan kasus ini, karena Wilfrida Soik adalah korban trafficking dan juga dia masih di bawah umur. Sekali lagi saya tekankan, Polisi (Polres Belu) harus proses calo-calo itu dan Polisi jangan mendiamkan kasus ini. +++ FLA+++

 

 

*SS : Suster Sesilia, SSpS

SF : Suara Flores

Iklan

2 Komentar

  1. sby bodok,,tidak biasa bella warganya sendiri,,padahal jadi presiden dari suara rakyat..
    (UNMER)

  2. sebenarnya Wilfrida soik tidak bisa langsung di fonis dengan hukuman mati sebab ini antara lawan atau mati banyak tenaga kerja ilegal yang mengalami nasib yang sama seperti wilfrida soik, masih untung wilfrida soik dapat mempertahankan nyawanya kalau tidak bisa dia yang dikembalikan dengan petimati dari negeri jiran, ini salah satu pembelaan diri kalau dia tidak membunuh pasti dia yang dibunuh. Polres Belu harus bijaksana dalam menangani kasus ini karena ada undang undang yang berlaku dan oknum tersebut dalam keadaan terdesak sampai dia berbuat demikian, dan yang harus dikenakan sangsi sebenarnya orang yang mengantar wilfrida soik, dan calo calo yang merekrut tenaga kerja secara ilegal di negeri jihan harus diberantas, apakah negara kita tidak ada pekerjaan yang layak untuk dikerjakan lantas kita pergi kenegara orang dengan tidak diketahui oleh pemerintah…??? jangan kita menginginkan gaji yang besar lantas tergiur dengan bujukan pencari kerja ilegal tapi sengsara dinegeri orang kita ingat salah satu tembang biar busu busu ada di kampung sandiri.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s